KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | SELASA, 26 JUNI 2007
Ngabayotn, Ungkapan Syukur Dayak Salako kepada Jubato


Bersyukur kepada Jubato (Kanayatn=Jubata/Sang Pencipta) menjadi lumrah bagi setiap orang yang menyadari kehadiranNya atas karya manusia. Manifestasi syukur ini bisa diwujudkan dalam beragam bentuk kegiatan, termasuk dalam ritual-ritual tertentu bagi setiap suku bangsa di muka bumi ini. Suku Dayak Salako adalah satu di antaranya yang mencoba menggali dan menghidupkan kembali ungkapan rasa syukur tersebut. Melalui Ritual Nbagayotn yang ketiga kalinya dihelat pada 1 Juni 2007 lalu yang dipusatkan di Rumah Parauman Adat (RPA) Desa Bagak, Singkawang Timur, warga setempat bergembira bersama mengungkapkan rasa syukurnya kepada Jubato, Awo Pamo (arwah para leluhur) atas segala sesuatu yang telah diperoleh, terutama atas hasil panen padi. Melalui acara ini warga sekaligus memanjatkan doa agar tahun berikutnya senantiasa diberkati dan diberi rezeki yang melimpah.

Tradisi Ritual Ngabayotn merupakan salah satu ritual padi Dayak Salako dialek Badameo’ yang bermukim di sekitar Binuo Garantukng Sakawokng di samping ritual Nurutni’ (upacara inti adat untuk memasuki masa panen). Acara yang dilaksanakan seusai masa panen dan sekaligus menandai akan dimulainya tahun pertanian (masa berladang) yang baru juga dikenal dengan Ritual Tutup Tahutn. Melalui upacara ritual ini pula, sumangat (spirit) padi dipanggil supaya berkumpul kembali bersama padi yang lain yang telah berada dalam lumbung. Sumangat padi pada tahapan ini dipanggil untuk dicaeki’ (didarahi/diurapi) dengan darah babi/ayam agar saat sumangat padi tersebut merantau dapat kembali pada setiap keluarga yang memilikinya. Karenanya, pesta padi ini juga dikenal dengan Narahi’ Padi atau Bataroh Padi. Di samping itu, ritual ini juga diwarnai dengan Ngarunukng, yakni mengerubungi makanan yang telah disediakan sebelumnya oleh keluarga di RPA untuk disantap bersama. Momen ini juga sebagai wadah dan kesempatan bagi warga tani setempat untuk menjalin kebersamaan dalam memperkokoh hubungan antar warga, kerabat dan sanak saudara untuk bersama-sama menikmati suguhan hidangan. Sedangkan lebih khusus bagi keluarga yang Kacaco’otn yakni ditinggal oleh orang tua karena dipanggil Sang Khalik, pesta padi Ngabayotn diyakini sebagai upacara untuk memelihara hubungan dan rasa hormat anak terhadap arwah orang tua mereka.

Mengawali acara Ngabayotn, dimulai dengan pemanjatan doa oleh Panarokng atau Panyangohotn (imam) yang sebelumnya telah tersedia sesaji besar berupa Bantanan (hewan babi kurban) beserta perangkat lainnya di ruang tengah RPA. Setelah beberapa waktu, meriam (lela) pun dibunyikan beberapa kali menandai dimulainya acara ritual. Kemudian, di pelataran bawah tempat ditanamkannya tempayan penetapan Kapalo Binua persis depan RPA dengan dilengkapi sesaji Panayangohotn juga memanjatkan doa. Kemudian disusul dengan tarian ritual Notokng Padi yang merupakan ungkapan syukur atas keberhasilan yang telah diraih yang dipersembahkan kepada Jubato dan Awo Pamo (arwah para leluhur). Acara Notokng padi yang diperagakan dengan tarian pria dan wanita setengah baya di pelataran RPA melambangkan seni budaya Dayak Salako yang diturunkan Sang Jubato kepada orang-orang berani yang menduduki kepala adat atau Pamangko Adat (pemangku adat).
Seperti disampaikan Kepala Binua Garantukng Sakawokng, Drs. Simon Takdir, MA, acara tarian Notokng Padi juga dimaksudkan sebagai ungkapan untuk menghormati, menyanjung sumangat padi dan memohon agar panen padi di masa mendatang hasilnya melimpah, mencapai hasil yang tinggi, setinggi posisi Jambi. Akhir dari upacaran Notokng Padi ini, setelah puas berkeliling di pelataran, para penari pria dan wanita bersama-sama menghadap pada jambi (panjabi) yang bermakna sebuah pondok kecil yang mencirikan khas Dayak Salako sebagai tempat menyimpan benih padi yang akan ditanam kembali. Di dalam jambi tersebut disediakan seperangkat sesaji dan padi pemimpin (Ne' Kabayan) yang siap untuk didarahi oleh Panarokng (Imam yang Menerangkan). Hal ini dimaksudkan agar ketika dicaeki’ (diurapi), pekerjaan yang akan dilakukan tidak menjadi sia-sia.

Kebinuaan Garantukng Sakawokng yang meliputi Puaje, Pasak, Pak Kucing, Sanorekng, Ranto, Parento’/Saopo, Bagak Sahwo, Nyarumkop, Poteng/Pajintotn dan sekitarnya, menurut Drs. Simon Takdir, MA melalui kegiatan Ngabayotn berusaha menggali kembali dan menampilkan beberapa unsur budaya Dayak Salako yang kini berangsur-angsur mulai hilang ditelan arus globalisasi. ”Pada Ngabayotn III, kebinuaan memunculkan dua unsur hasil yakni jambi dan bauh padi (tempat menyimpan padi). Dikatakan, keduanya merupakan harta peninggalan budaya para leluhur yang tidak boleh dilupakan. ”Kalau memang harta budaya kita ini baik, mari kita bersatu untuk mempertahankan dan melestarikannya, karena inilah identitas kita,” harap Simon.

Melalui rangkaian acara Ngabayotn, di samping ritual demi ritual, juga dihadirkan panggung hiburan rakyat, pameran, atraksi kesenian, juga diadakan seminar Ngabayotn III bertajuk Eksistensi Keberagaman Kebudayaan dan Hayati Binuo Garantukng Sakawokng. Seminar yang pertama kali digelar di acara Ngabayotn ini terselenggara berkat kerja sama panitia Ngabayotn Binuo Garantukng Sakawokng, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalbar (AMAN Kalbar) dan Institut Dayakologi (ID) serta di dukung oleh Pemkot Singkawang dan Sawit Watch. Kegiatan ini dihelat bertempat di Gedung Pemadam Api Dinas Kehutanan di Desa Bagak pada tanggal 30 Mei 2007 menghadirkan para narasumber; Drs. Sujarni Alloy, MA (AMAN Kalbar), Drs. Simon Takdir, MA (Peneliti Dayak Salako), Eko Dharmawan (HCVF), Drs. H. Darmawansyah (Aktivis CU Bonaventura), dan Alek Pendis (Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas).

Adam