|
«
Kembali
::
KR ONLINE | SELASA,
26 JUNI 2007
Ngabayotn, Ungkapan Syukur Dayak Salako kepada Jubato
Bersyukur kepada Jubato (Kanayatn=Jubata/Sang Pencipta) menjadi lumrah bagi
setiap orang yang menyadari kehadiranNya atas karya manusia. Manifestasi
syukur ini bisa diwujudkan dalam beragam bentuk kegiatan, termasuk dalam
ritual-ritual tertentu bagi setiap suku bangsa di muka bumi ini. Suku Dayak
Salako adalah satu di antaranya yang mencoba menggali dan menghidupkan
kembali ungkapan rasa syukur tersebut. Melalui Ritual Nbagayotn yang ketiga
kalinya dihelat pada 1 Juni 2007 lalu yang dipusatkan di Rumah Parauman Adat
(RPA) Desa Bagak, Singkawang Timur, warga setempat bergembira bersama
mengungkapkan rasa syukurnya kepada Jubato, Awo Pamo (arwah para leluhur)
atas segala sesuatu yang telah diperoleh, terutama atas hasil panen padi.
Melalui acara ini warga sekaligus memanjatkan doa agar tahun berikutnya
senantiasa diberkati dan diberi rezeki yang melimpah.
Tradisi Ritual Ngabayotn merupakan salah satu ritual padi Dayak Salako
dialek Badameo’ yang bermukim di sekitar Binuo Garantukng Sakawokng di
samping ritual Nurutni’ (upacara inti adat untuk memasuki masa panen). Acara
yang dilaksanakan seusai masa panen dan sekaligus menandai akan dimulainya
tahun pertanian (masa berladang) yang baru juga dikenal dengan Ritual Tutup
Tahutn. Melalui upacara ritual ini pula, sumangat (spirit) padi dipanggil
supaya berkumpul kembali bersama padi yang lain yang telah berada dalam
lumbung. Sumangat padi pada tahapan ini dipanggil untuk dicaeki’
(didarahi/diurapi) dengan darah babi/ayam agar saat sumangat padi tersebut
merantau dapat kembali pada setiap keluarga yang memilikinya. Karenanya,
pesta padi ini juga dikenal dengan Narahi’ Padi atau Bataroh Padi. Di
samping itu, ritual ini juga diwarnai dengan Ngarunukng, yakni mengerubungi
makanan yang telah disediakan sebelumnya oleh keluarga di RPA untuk disantap
bersama. Momen ini juga sebagai wadah dan kesempatan bagi warga tani
setempat untuk menjalin kebersamaan dalam memperkokoh hubungan antar warga,
kerabat dan sanak saudara untuk bersama-sama menikmati suguhan hidangan.
Sedangkan lebih khusus bagi keluarga yang Kacaco’otn yakni ditinggal oleh
orang tua karena dipanggil Sang Khalik, pesta padi Ngabayotn diyakini
sebagai upacara untuk memelihara hubungan dan rasa hormat anak terhadap
arwah orang tua mereka.
Mengawali acara Ngabayotn, dimulai dengan pemanjatan doa oleh Panarokng atau
Panyangohotn (imam) yang sebelumnya telah tersedia sesaji besar berupa
Bantanan (hewan babi kurban) beserta perangkat lainnya di ruang tengah RPA.
Setelah beberapa waktu, meriam (lela) pun dibunyikan beberapa kali menandai
dimulainya acara ritual. Kemudian, di pelataran bawah tempat ditanamkannya
tempayan penetapan Kapalo Binua persis depan RPA dengan dilengkapi sesaji
Panayangohotn juga memanjatkan doa. Kemudian disusul dengan tarian ritual
Notokng Padi yang merupakan ungkapan syukur atas keberhasilan yang telah
diraih yang dipersembahkan kepada Jubato dan Awo Pamo (arwah para leluhur).
Acara Notokng padi yang diperagakan dengan tarian pria dan wanita setengah
baya di pelataran RPA melambangkan seni budaya Dayak Salako yang diturunkan
Sang Jubato kepada orang-orang berani yang menduduki kepala adat atau
Pamangko Adat (pemangku adat).
Seperti disampaikan Kepala Binua Garantukng Sakawokng, Drs. Simon Takdir,
MA, acara tarian Notokng Padi juga dimaksudkan sebagai ungkapan untuk
menghormati, menyanjung sumangat padi dan memohon agar panen padi di masa
mendatang hasilnya melimpah, mencapai hasil yang tinggi, setinggi posisi
Jambi. Akhir dari upacaran Notokng Padi ini, setelah puas berkeliling di
pelataran, para penari pria dan wanita bersama-sama menghadap pada jambi (panjabi)
yang bermakna sebuah pondok kecil yang mencirikan khas Dayak Salako sebagai
tempat menyimpan benih padi yang akan ditanam kembali. Di dalam jambi
tersebut disediakan seperangkat sesaji dan padi pemimpin (Ne' Kabayan) yang
siap untuk didarahi oleh Panarokng (Imam yang Menerangkan). Hal ini
dimaksudkan agar ketika dicaeki’ (diurapi), pekerjaan yang akan dilakukan
tidak menjadi sia-sia.
Kebinuaan Garantukng Sakawokng yang meliputi Puaje, Pasak, Pak Kucing,
Sanorekng, Ranto, Parento’/Saopo, Bagak Sahwo, Nyarumkop, Poteng/Pajintotn
dan sekitarnya, menurut Drs. Simon Takdir, MA melalui kegiatan Ngabayotn
berusaha menggali kembali dan menampilkan beberapa unsur budaya Dayak Salako
yang kini berangsur-angsur mulai hilang ditelan arus globalisasi. ”Pada
Ngabayotn III, kebinuaan memunculkan dua unsur hasil yakni jambi dan bauh
padi (tempat menyimpan padi). Dikatakan, keduanya merupakan harta
peninggalan budaya para leluhur yang tidak boleh dilupakan. ”Kalau memang
harta budaya kita ini baik, mari kita bersatu untuk mempertahankan dan
melestarikannya, karena inilah identitas kita,” harap Simon.
Melalui rangkaian acara Ngabayotn, di samping ritual demi ritual, juga
dihadirkan panggung hiburan rakyat, pameran, atraksi kesenian, juga diadakan
seminar Ngabayotn III bertajuk Eksistensi Keberagaman Kebudayaan dan Hayati
Binuo Garantukng Sakawokng. Seminar yang pertama kali digelar di acara
Ngabayotn ini terselenggara berkat kerja sama panitia Ngabayotn Binuo
Garantukng Sakawokng, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalbar (AMAN Kalbar)
dan Institut Dayakologi (ID) serta di dukung oleh Pemkot Singkawang dan
Sawit Watch. Kegiatan ini dihelat bertempat di Gedung Pemadam Api Dinas
Kehutanan di Desa Bagak pada tanggal 30 Mei 2007 menghadirkan para
narasumber; Drs. Sujarni Alloy, MA (AMAN Kalbar), Drs. Simon Takdir, MA
(Peneliti Dayak Salako), Eko Dharmawan (HCVF), Drs. H. Darmawansyah (Aktivis
CU Bonaventura), dan Alek Pendis (Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas).
Adam |
|