KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | SELASA, 3 JULI 2007
Agamawan Serukan Penyelamatan Lingkungan


Keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang telah mengalami degradasi bukan hanya diserukan oleh kalangan aktivis pencinta lingkungan seperti pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2007 lalu. Namun ungkapan kepedihan atas kondisi lingkungan yang terus mengalami degradasi khususnya kawasan hutan juga disoroti para agamawan di negeri ini melalui Deklarasi Penyelamatan Lingkungan yang dihasilkan dalam dialog bertajuk Pelestarian Alam dan Upaya perlindungan Hutan dalam Perspektif Keagamaan dan Kepercayaan di Indonesia. Hampir 1 bulan telah berlalu, tampaknya seruan ini kembali dilupakan bahkan barangkali oleh kita semua. Maka tepat kiranya seruan tersebut kembali kita ingat dan laksanakan.

Deklarasi yang memuat lima poin seruan moral untuk penyelamatan lingkungan masing-masing ditandatangani oleh Drs. H. Moh. Haitami Salim, M. Ag. (Islam, Ketua STAIN Pontianak), Pdt. Djonly Rosang, MA (Protestan), Dr. William Chang, OFM Cap (Katolik), Ir. Putu Dupa Bandem (Hindu), Pandita Edi Tansuri (Budha) dan Ir. Sakandi Talok (Khong Hu Cu). Kelima agamawan tersebut sekaligus menjadi narasumber dalam dialog yang dilaksanakan atas kerja sama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak dan EC-Indonesia FLEGT Support Project bertempat di Gedung Lecture Theatre STAIN pada 7 Juni 2007.

Dalam deklarasi yang dihasilkan, keenam tokoh yang mewakili peserta dialog mengajak, menyerukan dan mendesak berbagai pihak untuk terus menerus menyadarkan dan membiasakan diri menjadi pencinta dan penyelamat lingkungan. Lebih khusus, seruan tersebut menyerukan kepada: 1) Agamawan agar menyadarkan umatnya melalui pengajaran/khotbah dalam kegiatan-kegiatan ibadah, dan memelopori tindakan-tindakan nyata penyelamatan lingkungan, 2) Warga masyarakat agar membiasakan diri bertindak arif, mencintai lingkungan, mulai dari pribadi dan lingkungan sosial terkecil, yaitu keluarga. Warga masyarakat hendaknya menjadikan kecintaan akan lingkungan sebagai gerakan moral sosial untuk menciptakan kebiasaan sosial yang mulia, 3) Pihak pemerintah dan semua aparat penegak hukum agar semakin aktif membuat aturan-aturan untuk menyelamatkan lingkungan dan menegakkannya dengan konsisten, bermoral dan jujur. Pemberantasan illegal logging harus dilakukan lebih giat lagi, 4) Para pengusaha hendaknya tidak mengeruk keuntungan dengan menguras sumber daya alam secara serakah, tidak sesuai aturan, dan tidak bertanggung jawab. Para pengusaha hendaknya menunjukkan tanggung jawab moral yang konkret dalam menyelamatkan dan mengelola lingkungan di wilayah kerjanya, 5) Kalangan LSM, lembaga-lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan kelompok masyarakat lainnya hendaknya terus-menerus mendorong gerakan moral sosial dalam menyelamatkan lingkungan hidup.

Seperti disampaikan dalam materi dialog sebelumnya, dari keenam narasumber mengurai bahwa pada masing-masing keyakinan terdapat nilai dan ajaran yang mendukung terwujudnya kelestarian lingkungan hidup. Seperti disampaikan Moh. Haitami Salim mengutip QS.30:41, bahwa telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. ”Hampir setiap agama memosisikan keberadaan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kehidupan dan keagamaan. Bahkan alam diposisikan sebagai salah satu dimensi dari trilogi kehidupan antara Tuhan, Manusia dan Alam,” urai Haitami.

William Chang, OFM. Cap. menguraikan bahwa proses penciptaan yang dilakukan Tuhan adalah potret penciptaan. Dikatakan pula bahwa manusia sebagai bagian dari alam. Untuk melakukan pelestarian atas lingkungan, William memandang penting adanya kebudayaan baru dalam berlingkungan hidup yang menyangkut langkah-langkah dengan mengesampingkan reduksivisme, mengubah budaya eksploitasi dengan budaya tanggung jawab, pentingnya kesadaran manusia sebagai bagian dari kosmos, bersaudara dengan alam, berbelas kasih, dan mengubah paradigma antroposentrisme pada kosmosentrisme serta yang terpenting menurut William adalah melakukan penghijauan diri.

Sementara Pdt. Djonly Rosang mengingatkan bahwa pelestarian alam dan hutan harus dimulai dari manusia itu sendiri yang diberi hak istimewa untuk menjaga dan mengelola alam. Hal sama disampaikan Pandita Edi Tansuri, di mana kelestarian alam selain mesti dimulai dari diri sendiri.

Kegiatan ini diharapkan bukan omong kosong, namun harus ditindaklanjuti. Ir. Sakandi Talok turut menyampaikan apresiasi bahwa menjaga kelestarian lingkungan hidup semestinya dimulai dari hal yang kecil. Sedangkan Putu Dupa Bandem mengurai bahwa Tri Hita Karana sebagai suatu konsep pelestarian alam dan perlindungan hutan.

Adam