KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | JUMAT, 13 JULI 2007
Hancurnya Konstruksi Sosial Akibat Perkebunan Sawit


Perkembangan perkebunan kelapa sawit skala besar di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1911 di Sumatra. Pengembangan perkebunan kelapa sawit menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan pasar global (internasional) atas minyak sawit dan inti sawit. Alasan karena pertumbuhan ekonomi secara makro di republik ini, maka mendorong pemerintah untuk mengundang investasi secara besar-besaran ke Indonesia terutama di Kalimantan Barat. Meskipun masyarakat adat yang harus dikorbankan, baik itu tanah, hutan dan air mereka. Selain itu juga datangnya investasi perkebunan sawit akan menghilangkan budaya-budaya lokal khususnya masyarakat adat sebagai konstruksi sosial yang sudah ada di dalam masyarakat sejak zaman dahulu.

Di Kalimantan Barat, pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar dimulai pada tahun 1980-an melalui pembukaan perkebunan kelapa sawit skala besar oleh PT. Perkebunan VII. Tahun–tahun selanjutnya pertumbuhan luas perkebunan di Kalimantan Barat juga mengalami pertumbuhan yang telah mengantar Kalimantan Barat menjadi salah satu propinsi penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia. Sampai dengan tahun ini luas perkebunan kelapa sawit skala besar mencapai 1,3 juta ha dengan total izin yang telah dikeluarkan mencapai 3,2 juta ha. Keterlibatan perusahaan dalam perkebunan kelapa sawit tidak dimonopoli oleh perusahaan perkebunan negara tetapi juga oleh perusahaan swasta nasional dan asing.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit skala besar telah melahirkan konsekuensi yang serius terhadap keberadaan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam. Konsekuensi yang serius dimaksud berupa: (1)semakin mengecilnya penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam, (2) meningkatnya ketergantungan terhadap industri kelapa sawit, (3) tergusurnya nilai–nilai sosial budaya masyarakat adat, (4) kehilangan hak atas tanah. Kondisi di atas semakin dipersulit dengan meningkatnya konflik horizontal dan vertikal.

Dampak negatif tersebut sudah mendapat perhatian yang serius dari berbagai kelompok masyarakat sipil dengan melakukan berbagai aktivitas advokasi dengan tujuan membantu masyarakat untuk mempertahankan dan merebut kembali hak–hak masyarakat lokal atas sumber daya alam. Gerakan advokasi tersebut telah dilakukan secara meluas namun masifnya perkembangan perkebunan kelapa sawit skala besar dan konflik yang terjadi satu indikasi kuat bahwa aksi–aksi advokasi yang dilakukan oleh masyarakat sipil masih perlu ditingkatkan sinergisitas dan ketepatan arah advokasinya. Agar ketertindasan masyarakat lokal terutama masyarakat adat bisa diminimalisir.

Nilai-nilai sosial di dalam masyarakat ibarat bangunan yang kokoh. Tetapi dengan hadirnya raksasa perkebunan besar kelapa sawit baik investasi dari dalam maupun luar negeri memberi kontribusi yang luar biasa terhadap penghancuran nilai-nilai sosial di masyarakat. Ibarat karang di tepi laut yang begitu kokoh namun sedikit demi sedikit hilang oleh hantaman badai yang begitu dahsyat. Bangunan sosial di masyarakat ada sebelum Indonesia ada dan terpelihara dengan baik oleh para pendahulu terdahulu (sebut saja kaum nasionalisme), akan tetapi atas nama pendapatan daerah, pendapatan nasional yang diterjemahkan dalam dunia investasi maka bangunan sosial di masyarakat dianggap tidak ada bahkan nilai-nilai sosial yang sudah terpelihara selama ini dianggap nol. Jiwa dan darah para pemimpin negeri ini sudah menyatu dengan nilai-nilai kapitalisme, seolah-olah sudah seperti penyakit HIV/AIDS yang tidak mungkin bisa disembuhkan lagi.

Aset sosial masyarakat adat dengan bangunan sosial yang begitu kokoh yang ada di dalam masyarakat adat harus terpelihara dengan baik dan harus dipertahankan dari paham kapitalisme yang merusak secara khusus dengan hadirnya perkebunan besar kelapa sawit. Masyarakat adat harus bersatu untuk melawan segala bentuk penindasan yang datang seperti pencuri. Karena paham kapitalisme itu datang dalam wujud saudara, bapak bahkan ibu sendiri sehingga kita tidak mudah untuk mengenalnya dan dia akan menghisap darah rakyat.

Hendi Candra, Manajer Kampanye Walhi Kalbar