|
«
Kembali
::
KR ONLINE | JUMAT,
13 JULI 2007
Hancurnya Konstruksi Sosial Akibat Perkebunan Sawit
Perkembangan perkebunan kelapa sawit skala besar di Indonesia sudah dimulai
sejak tahun 1911 di Sumatra. Pengembangan perkebunan kelapa sawit
menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini
dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan pasar global (internasional) atas
minyak sawit dan inti sawit. Alasan karena pertumbuhan ekonomi secara makro
di republik ini, maka mendorong pemerintah untuk mengundang investasi secara
besar-besaran ke Indonesia terutama di Kalimantan Barat. Meskipun masyarakat
adat yang harus dikorbankan, baik itu tanah, hutan dan air mereka. Selain
itu juga datangnya investasi perkebunan sawit akan menghilangkan
budaya-budaya lokal khususnya masyarakat adat sebagai konstruksi sosial yang
sudah ada di dalam masyarakat sejak zaman dahulu.
Di Kalimantan Barat, pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar dimulai
pada tahun 1980-an melalui pembukaan perkebunan kelapa sawit skala besar
oleh PT. Perkebunan VII. Tahun–tahun selanjutnya pertumbuhan luas perkebunan
di Kalimantan Barat juga mengalami pertumbuhan yang telah mengantar
Kalimantan Barat menjadi salah satu propinsi penghasil minyak sawit terbesar
di Indonesia. Sampai dengan tahun ini luas perkebunan kelapa sawit skala
besar mencapai 1,3 juta ha dengan total izin yang telah dikeluarkan mencapai
3,2 juta ha. Keterlibatan perusahaan dalam perkebunan kelapa sawit tidak
dimonopoli oleh perusahaan perkebunan negara tetapi juga oleh perusahaan
swasta nasional dan asing.
Perkembangan perkebunan kelapa sawit skala besar telah melahirkan
konsekuensi yang serius terhadap keberadaan masyarakat lokal dalam
pengelolaan sumber daya alam. Konsekuensi yang serius dimaksud berupa:
(1)semakin mengecilnya penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam, (2)
meningkatnya ketergantungan terhadap industri kelapa sawit, (3) tergusurnya
nilai–nilai sosial budaya masyarakat adat, (4) kehilangan hak atas tanah.
Kondisi di atas semakin dipersulit dengan meningkatnya konflik horizontal
dan vertikal.
Dampak negatif tersebut sudah mendapat perhatian yang serius dari berbagai
kelompok masyarakat sipil dengan melakukan berbagai aktivitas advokasi
dengan tujuan membantu masyarakat untuk mempertahankan dan merebut kembali
hak–hak masyarakat lokal atas sumber daya alam. Gerakan advokasi tersebut
telah dilakukan secara meluas namun masifnya perkembangan perkebunan kelapa
sawit skala besar dan konflik yang terjadi satu indikasi kuat bahwa
aksi–aksi advokasi yang dilakukan oleh masyarakat sipil masih perlu
ditingkatkan sinergisitas dan ketepatan arah advokasinya. Agar ketertindasan
masyarakat lokal terutama masyarakat adat bisa diminimalisir.
Nilai-nilai sosial di dalam masyarakat ibarat bangunan yang kokoh. Tetapi
dengan hadirnya raksasa perkebunan besar kelapa sawit baik investasi dari
dalam maupun luar negeri memberi kontribusi yang luar biasa terhadap
penghancuran nilai-nilai sosial di masyarakat. Ibarat karang di tepi laut
yang begitu kokoh namun sedikit demi sedikit hilang oleh hantaman badai yang
begitu dahsyat. Bangunan sosial di masyarakat ada sebelum Indonesia ada dan
terpelihara dengan baik oleh para pendahulu terdahulu (sebut saja kaum
nasionalisme), akan tetapi atas nama pendapatan daerah, pendapatan nasional
yang diterjemahkan dalam dunia investasi maka bangunan sosial di masyarakat
dianggap tidak ada bahkan nilai-nilai sosial yang sudah terpelihara selama
ini dianggap nol. Jiwa dan darah para pemimpin negeri ini sudah menyatu
dengan nilai-nilai kapitalisme, seolah-olah sudah seperti penyakit HIV/AIDS
yang tidak mungkin bisa disembuhkan lagi.
Aset sosial masyarakat adat dengan bangunan sosial yang begitu kokoh yang
ada di dalam masyarakat adat harus terpelihara dengan baik dan harus
dipertahankan dari paham kapitalisme yang merusak secara khusus dengan
hadirnya perkebunan besar kelapa sawit. Masyarakat adat harus bersatu untuk
melawan segala bentuk penindasan yang datang seperti pencuri. Karena paham
kapitalisme itu datang dalam wujud saudara, bapak bahkan ibu sendiri
sehingga kita tidak mudah untuk mengenalnya dan dia akan menghisap darah
rakyat.
Hendi Candra, Manajer Kampanye Walhi Kalbar |
|