KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | JUMAT, 20 JULI 2007
Peresmian Jembatan Kapuas II Akal-akalan?


Diresmikannya jembatan Kapuas II sepanjang 560 m dan lebar 9 m yang merupakan salah satu di antara beberapa proyek pembangunan pemerintah Kalimantan Barat yang diresmikan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 Juli 2007 lalu terkesan buru-buru. Hal ini terlihat dengan masih belum rampungnya keseluruhan realisasi pembangunan proyek yang menelan biaya hingga Rp 171,4 miliar sejak tahun 2003 itu. Bahkan sehari sesudah peresmian Jembatan Kapuas yang menyedot dana APBN (Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara) sebesar Rp 79 miliar dan dana APBD (Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah) untuk pembebasan lahan dan pengembangan jalan arteri sepanjang 5,5 km masih dikerjakan.

Suasana di lingkungan pangkal jembatan arah Adi Sucipto dan arah Jalan Tanjung Raya yang dihijaukan dengan pepohonan yang ditanami kini justru harus dicabut kembali (tandus). Sehingga dengan kondisi tersebut, pembangunan jembatan yang membelah Sungai Kapuas sebelah utara berbatasan dengan Desa Kapur dan sebelah selatan Jalan Adi Sucipto ini seakan dipaksakan. Sungguhkah realisasi peresmian ini bersembunyi dibalik skenario akal-akalan saja? Bukan hanya itu, sehari sebelum kedatangan Presiden RI di Bumi Kalbar “penampilan” wajah Kota Pontianak berubah seketika tampak lebih tertata dari sebelumnya. "Kesannya ASBYS (Asal SBY Senang)," kata salah seorang warga Desa Kapur kepada Elias dari KR ketika melihat kondisi 2 hari pasca peresmian.

Hendi Candra, Manajer Kampanye Walhi saat dikonfirmasi KR membenarkan kemungkinan anggapan tersebut. Menurut Hendi, fenomena tersebut menjadi bagian dari “akal-akalan” yang dilakukan pemerintah daerah untuk menyenangkan Presiden RI. “Mestinya pemerintah menggalakkan pembangunan untuk masyarakat dengan kemurnian, tanpa disertai kemungkinan untuk mendapatkan yang lainnya. Indikasi itu terlihat dengan semakin meningkatnya intensitas kegiatan pemerintah dalam pembangunan, terutama menjelang Pilkada,” jelasnya.

Tanggapan lainnya muncul dari warga Desa Kapur saat KR mencoba berbincang ringan sambil minum di warungnya. “Memang ada kesan akal-akalan, seperti pohon yang ditanam untuk menghijaukan acara peresmian saat itu telah dicabut. Menurut kabarnya, pohon-pohon tersebut hanya disewa sementara waktu oleh panitia (pemerintah) untuk memperindah lingkungan sekitarnya,” urai warga yang tidak menyebutkan namanya ini. Namun demikian, dia mengaku pembangunan jembatan dirasakan turut membantu arus transportasi penyeberangan warga setempat maupun warga yang lainnya.

“Pada dasarnya pembangunannya bagus, karena memang untuk di Kalbar kita memang perlu banyak jembatan, dan di kota Pontianak ini kita perlu banyak pohon yang ditanam. Pemerintah kita ini memang lebih pada ABS (asal bapak senang), jadi siapa datang ke sini biar beranggapan kalau Pontianak atau Kalbar ini baik-baik saja,” urai Herman. Aktivis Lingkungan ini sepakat kalau kesan yang akhirnya muncul sebagai akal-akalan. “Sepakat, itu memang akal-akalan. Sama seperti pohon yang di depan gubernuran, yang dihiasi pakai lampu. Mestinya kalau kita tanam pohon yang aslinya tidak perlu pakai lampu dan pemandangannya akan terlihat indah,” jelasnya. Herman meminta agar upaya pembangunan yang digalakkan pemerintah jangan kesannya asal bapak senang. Pembangunan pada dasarnya dinilai baik adanya, namun diharapkan pembangunan mesti harus memikirkan aspek dampak lingkungan.

RMS versi Mahasiswa Kalbar

Bersamaan dengan kedatangan Presiden RI, berbagai elemen masyarakat terutama mahasiswa di Kota Pontianak yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Borneo (KMB) memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggelar aksi menyampaikan aspirasi. Aksi yang dipusatkan di bundaran Untan di blokade aparat keamanan. Dalam aksinya, mahasiswa membeberkan kegagalan pemerintah sehingga dalam rekomendasi selebaran aksinya meminta Presiden mundur dan supaya meminta maaf kepada rakyat Kalbar.

Kegagalan pemerintah SBY sebagai indikasi Rapor Merah SBY (RMS) seperti diungkapkan dalam selebaran aksi di antaranya; pemerintah dinilai belum mampu menuntaskan agenda reformasi, lemahnya supremasi hukum, UU Perbatasan yang tidak kunjung tuntas, terjadinya kapitalisasi pendidikan, lambatnya Presiden menandatangani peraturan yang memungkinkan percepatan penanganan dugaan kasus korupsi yang dilakukan sejumlah elit dan penolakan terhadap upaya penghentian pengurasan sumber daya alam serta perampasan tanah rakyat untuk perkebunan sawit. Enam puluh dua tahun Indonesia merdeka ternyata belum dinikmati rakyatnya, kecuali rakyat-rakyat yang kini menjadi pejabat.

Hendrikus Adam