KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | RABU, 29 AGUSTUS 2007
Api Musnahkan Kekayaan Pengetahuan Warisan Dayak bagi Dunia




Tanggal 9 Agustus merupakan Hari Masyarakat Adat Sedunia. Ironisnya pada tanggal ini pula lima lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat adat musnah jadi abu karena disapu api. Hari itu adalah hari paling naas bagi lembaga-lembaga di lingkungan Serikat Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Adat Dayak Pancur Kasih (SegeraK-PK) ini. Api muncul secara tiba-tiba, kira-kira pukul 12.15 WIB. Hanya dalam hitungan 15 menit, api menghanguskan lima lembaga ini. Kelima lembaga ini merupakan gudang data, arsip dan dokumen sekaligus pusat pemberdayaan gerakan. Api bukan hanya memusnahkan gedung tetapi telah melenyapkan hasil penelitian, arsip, data dan dokumen yang telah dikumpulkan selama belasan tahun. Adapun lembaga Non Government Organization (NGO) yang luluh lantak dilahap si jago merah adalah Institut Dayakologi (ID) atau dulunya dikenal dengan nama Institute Dayakology Research and Development (IDRD), Majalah Kalimantan Review (KR), Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Percetakan Mitra Kasih dan Sekretariat SegeraK Pancur Kasih.

ID merupakan lembaga penelitian kebudayaan Dayak yang didirikan pada tahun 1991. Selain sebagai lembaga penelitian, ID juga merupakan lembaga advokasi, rekonsiliasi dan publikasi. Lembaga riset budaya Dayak terlengkap di dunia ini telah memublikasikan puluhan buku, ribuan kaset rekaman, ratusan film-film dokumenter dan lain sebagainya. Buku-buku telah diterbitkan dalam ratusan judul yang tersebar di seluruh dunia. Para peneliti dan pemerhati budaya baik nasional maupun internasional selalu menggunakan lembaga ini sebagai salah satu nara sumber dan referensi. Sehingga tidak aneh bila lembaga ini sangat populer di mata dunia. Selain itu, para peneliti dari berbagai belahan dunia kerap kali magang dan menyelesaikan studi mereka melalui lembaga ilmiah ini. ID juga sudah melakukan penelitian etnolinguistik dan tradisi lisan di seluruh daerah serta perkampungan Dayak. Hasil penelitian ini menjadi harta yang tak ternilai yang dimiliki masyarakat adat Dayak secara global. ID juga secara rutin menerbitkan majalah, jurnal dan buku-buku hasil penelitian.

Lembaga lain yang terbakar adalah Majalah Kalimantan Review. KR merupakan media pemberdayaan masyarakat adat dan rekonsiliasi yang terbit rutin secara bulanan. KR diterbitkan oleh Institut Dayakologi. Selain diterbitkan secara reguler, KR juga ada terbit secara khusus atau biasa dikenal sebagai KR khusus. Bila KR reguler diterbitkan sebulan sekali, KR khusus minimal 6 bulan sekali. KR merupakan sebuah media advokasi dan rekonsiliasi yang konsen terhadap pembelaan hak dan keadilan bagi masyarakat adat. KR, selain corong masyarakat adat, juga merupakan satu-satunya media bagi credit union di bawah BK3DK. Sama dengan ID, KR juga tersohor di Nusantara dan berbagai belahan dunia. KR sangat terkenal sebagai media yang sangat kritis, tajam, faktual dan akurat.

Tiga lembaga berikutnya yang sudah rata dengan tanah adalah LBBT, Percetakan Mitra Kasih dan Sekretariat SegeraK-PK. LBBT merupakan sebuah lembaga advokasi yang secara khusus bergerak di bidang hukum, terutama hukum yang mengatur tentang hak-hak masyarakat adat. Lembaga ini telah mendokumentasikan ratusan kasus-kasus yang menimpa MA. Lembaga yang didirikan tahun 1993 ini menyimpan berbagai peraturan dan perundangan serta buku-buku advokasi yang sangat lengkap. Korban kebakaran lainnya adalah percetakan Mitra Kasih (MIKA). MIKA merupakan percetakan yang berada di lingkungan SegeraK, mencetak segala macam keperluan baik untuk lembaga secara internal maupun secara umum. MIKA mencetak majalah KR, kaos, buku-buku, materi-materi pelayanan Credit Union dan lain-lain. Korban terakhir adalah Sekretariat SegeraK-PK. Sekretariat ini menyimpan segala dokumen dan arsip secara umum pada tingkat SegeraK.

Demikianlah keberadaan kelima lembaga yang menjadi kebanggaan seluruh MA Dayak ini. Dengan hangusnya data, dokumen, arsip dan berbagai hasil penelitian serta arsip berbagai kasus sesungguhnya bukan hanya para aktivisnya yang terpukul tetapi MA Dayak keseluruhan. Karena data dan sejarah yang telah terdokumentasi sudah lenyap hanya dalam hitungan menit.

”Sesungguhnya Dayaklah yang terbakar karena di sini tersimpan segala harta, kekayaan dan pengetahuan mereka yang tak ternilai harganya,” kata Edi Petebang, wartawan senior KR. Menurut John Bamba, Direktur Eksekutif ID, api memang telah membakar gedung berikut segala isinya tetapi api telah gagal menghanguskan semangat yang berkobar pada jiwa aktivis. Karena semangat yang menyala di jiwa raga aktivis jauh lebih besar kobarannya dibandingkan api yang membakar gedung lembaga.

Rasa simpati dan empati muncul dari berbagai pihak baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. Salah seorang pengamat sosial ekonomi, Francis Wahono, mengatakan ia sangat bersedih dan menyampaikan simpati yang mendalam atas terbakarnya gedung kelima lembaga. ”Saya turut sedih dan prihatin atas musibah ini. Musibah ini telah menghanguskan kekayaan pengetahuan warisan Dayak bagi dunia,” tuturnya prihatin. Api pada 9 Agustus 2007 itu memang telah meruntuhkan gedung dan kekayaan pengetahuan di dalamnya yang tak mungkin dinominalkan. Tetapi peristiwa ini sama sekali tidak merapuhkan semangat juang para aktivis pemberdayaan ini. Semoga kejadian ini menjadi sebuah pembelajaran dan langkah awal yang jauh lebih baik dari masa sebelumnya. Selamat berjuang dan salam pemberdayaan.

Gunui’