|
«
Kembali
::
KR ONLINE | RABU,
29 AGUSTUS 2007
Api Musnahkan Kekayaan Pengetahuan Warisan Dayak bagi
Dunia

Tanggal 9 Agustus merupakan Hari Masyarakat Adat Sedunia. Ironisnya pada
tanggal ini pula lima lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan
masyarakat adat musnah jadi abu karena disapu api. Hari itu adalah hari
paling naas bagi lembaga-lembaga di lingkungan Serikat Gerakan Pemberdayaan
Masyarakat Adat Dayak Pancur Kasih (SegeraK-PK) ini. Api muncul secara
tiba-tiba, kira-kira pukul 12.15 WIB. Hanya dalam hitungan 15 menit, api
menghanguskan lima lembaga ini. Kelima lembaga ini merupakan gudang data,
arsip dan dokumen sekaligus pusat pemberdayaan gerakan. Api bukan hanya
memusnahkan gedung tetapi telah melenyapkan hasil penelitian, arsip, data
dan dokumen yang telah dikumpulkan selama belasan tahun. Adapun lembaga Non
Government Organization (NGO) yang luluh lantak dilahap si jago merah adalah
Institut Dayakologi (ID) atau dulunya dikenal dengan nama Institute
Dayakology Research and Development (IDRD), Majalah Kalimantan Review (KR),
Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Percetakan Mitra Kasih dan Sekretariat
SegeraK Pancur Kasih.
ID merupakan lembaga penelitian kebudayaan Dayak yang didirikan pada tahun
1991. Selain sebagai lembaga penelitian, ID juga merupakan lembaga advokasi,
rekonsiliasi dan publikasi. Lembaga riset budaya Dayak terlengkap di dunia
ini telah memublikasikan puluhan buku, ribuan kaset rekaman, ratusan
film-film dokumenter dan lain sebagainya. Buku-buku telah diterbitkan dalam
ratusan judul yang tersebar di seluruh dunia. Para peneliti dan pemerhati
budaya baik nasional maupun internasional selalu menggunakan lembaga ini
sebagai salah satu nara sumber dan referensi. Sehingga tidak aneh bila
lembaga ini sangat populer di mata dunia. Selain itu, para peneliti dari
berbagai belahan dunia kerap kali magang dan menyelesaikan studi mereka
melalui lembaga ilmiah ini. ID juga sudah melakukan penelitian
etnolinguistik dan tradisi lisan di seluruh daerah serta perkampungan Dayak.
Hasil penelitian ini menjadi harta yang tak ternilai yang dimiliki
masyarakat adat Dayak secara global. ID juga secara rutin menerbitkan
majalah, jurnal dan buku-buku hasil penelitian.
Lembaga lain yang terbakar adalah Majalah Kalimantan Review. KR merupakan
media pemberdayaan masyarakat adat dan rekonsiliasi yang terbit rutin secara
bulanan. KR diterbitkan oleh Institut Dayakologi. Selain diterbitkan secara
reguler, KR juga ada terbit secara khusus atau biasa dikenal sebagai KR
khusus. Bila KR reguler diterbitkan sebulan sekali, KR khusus minimal 6
bulan sekali. KR merupakan sebuah media advokasi dan rekonsiliasi yang
konsen terhadap pembelaan hak dan keadilan bagi masyarakat adat. KR, selain
corong masyarakat adat, juga merupakan satu-satunya media bagi credit union
di bawah BK3DK. Sama dengan ID, KR juga tersohor di Nusantara dan berbagai
belahan dunia. KR sangat terkenal sebagai media yang sangat kritis, tajam,
faktual dan akurat.
Tiga lembaga berikutnya yang sudah rata dengan tanah adalah LBBT, Percetakan
Mitra Kasih dan Sekretariat SegeraK-PK. LBBT merupakan sebuah lembaga
advokasi yang secara khusus bergerak di bidang hukum, terutama hukum yang
mengatur tentang hak-hak masyarakat adat. Lembaga ini telah
mendokumentasikan ratusan kasus-kasus yang menimpa MA. Lembaga yang
didirikan tahun 1993 ini menyimpan berbagai peraturan dan perundangan serta
buku-buku advokasi yang sangat lengkap. Korban kebakaran lainnya adalah
percetakan Mitra Kasih (MIKA). MIKA merupakan percetakan yang berada di
lingkungan SegeraK, mencetak segala macam keperluan baik untuk lembaga
secara internal maupun secara umum. MIKA mencetak majalah KR, kaos,
buku-buku, materi-materi pelayanan Credit Union dan lain-lain. Korban
terakhir adalah Sekretariat SegeraK-PK. Sekretariat ini menyimpan segala
dokumen dan arsip secara umum pada tingkat SegeraK.
Demikianlah keberadaan kelima lembaga yang menjadi kebanggaan seluruh MA
Dayak ini. Dengan hangusnya data, dokumen, arsip dan berbagai hasil
penelitian serta arsip berbagai kasus sesungguhnya bukan hanya para
aktivisnya yang terpukul tetapi MA Dayak keseluruhan. Karena data dan
sejarah yang telah terdokumentasi sudah lenyap hanya dalam hitungan menit.
”Sesungguhnya Dayaklah yang terbakar karena di sini tersimpan segala harta,
kekayaan dan pengetahuan mereka yang tak ternilai harganya,” kata Edi
Petebang, wartawan senior KR. Menurut John Bamba, Direktur Eksekutif ID, api
memang telah membakar gedung berikut segala isinya tetapi api telah gagal
menghanguskan semangat yang berkobar pada jiwa aktivis. Karena semangat yang
menyala di jiwa raga aktivis jauh lebih besar kobarannya dibandingkan api
yang membakar gedung lembaga.
Rasa simpati dan empati muncul dari berbagai pihak baik tingkat lokal,
nasional maupun internasional. Salah seorang pengamat sosial ekonomi,
Francis Wahono, mengatakan ia sangat bersedih dan menyampaikan simpati yang
mendalam atas terbakarnya gedung kelima lembaga. ”Saya turut sedih dan
prihatin atas musibah ini. Musibah ini telah menghanguskan kekayaan
pengetahuan warisan Dayak bagi dunia,” tuturnya prihatin. Api pada 9 Agustus
2007 itu memang telah meruntuhkan gedung dan kekayaan pengetahuan di
dalamnya yang tak mungkin dinominalkan. Tetapi peristiwa ini sama sekali
tidak merapuhkan semangat juang para aktivis pemberdayaan ini. Semoga
kejadian ini menjadi sebuah pembelajaran dan langkah awal yang jauh lebih
baik dari masa sebelumnya. Selamat berjuang dan salam pemberdayaan.
Gunui’ |
|