KR ONLINE TERBARU

04/04/2011
Perkebunan Sawit dengan Persoalannya
30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2011
Jumlah tersedia: 41 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | JUMAT, 9 MEI 2008
Kiai Kanjeng (Emha Ainun Nadjib) Pentas di Ketapang


Bulan-bulan belakangan ini “wajah” Kabupaten Ketapang banyak muncul di pemberitaan media cetak dan televisi tingkat nasional. Maaf, bukannya pemberitaan tentang keberhasilan, tetapi pemberitaan berkaitan kasus illegal logging (pembalakan liar). Misalnya pemberitaan di sebuah majalah ibukota tentang penggelapan Dana Reboisasi Hutan oleh Tony Wong (TW), kasus pembalakan kayu di wilayah hulu Sandai dan lain sebagainya.

Baru-baru ini, berita marak lagi berkaitan operasi illegal logging yang dilakukan Mabes Polri. Operasi di Ketapang berhasil mengamankan 19 buah kapal memuat sekitar 12.000 meter kubik kayu olahan senilai Rp. 208 miliar yang akan diselundupkan ke Malaysia. Berita yang membuat dada sesak masyarakat kecil. Padahal, penyelundupan kayu ke luar Ketapang (Kalimantan) ini telah berlangsung bertahun-tahun dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Jika selama ini tidak terungkap, siapa yang menikmati dana triliunan dari bisnis laknat illegal logging itu?

Mabes Polri melakukan operasi penegakan hukum. Selain itu, dalam rangka mempromosikan kepedulian terhadap kelestarian alam, hutan dan lingkungan, pihak Departemen Kehutanan RI memakai pesan-pesan kebudayaan. Adalah Kelompok Musik Kiai Kanjeng bersama Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking dan pihak Departemen Kehutanan memberikan dukungan dan peneguhan tersebut. “Hutan adalah titipan anak cucu kita. Ia adalah titipan Allah untuk anak cucu yang harus kita jaga keberlangsungannya. Kita tidak boleh merusaknya, demikian teriak lantang Emha Ainun Nadjib di depan ribuan masyarakat Ketapang, para pejabat, tokoh masyarakat dan agama pada acara Dialog Rakyat bertajuk Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

Kegiatan Dialog Rakyat ini berlangsung pada 2 April 2008. Memang masyarakat Ketapang belum terbiasa dengan acara dialog rakyat seperti ini. “Saya tidak enak hati mengeluarkan unek-unek saya di depan pejabat, nanti saya akan susah nanti,” papar seorang pengunjung. Tapi, mendengar Emha Ainun Nadjib menunjuk langsung pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, hati semua pengunjung terobati.

Pak Bupati tidak boleh marah ke rakyatnya jika rakyatnya protes atau minta ini itu, sebelum pemimpin memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat, imbau Emha Ainun Nadjib.“Para pemimpin, para pastor, pendeta, ulama juga harus bertanggung jawab terhadap kelestarian hutan. Sebab, saatnya nanti para ulama sebagai khalifah akan ditanya oleh Allah, kenapa hutan tidak terlindungi?” lanjut budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun tersebut, disambut tepuk tangan ribuan masyarakat yang hadir.

Seruan Emha Ainun Nadjib tersebut terasa sangat mengena dan tepat waktu bagi semua masyarakat di Kabupaten Ketapang. Seminggu sebelumnya, operasi illegal logging yang dilakukan Mabes Polri di daerah ini berhasil mengamankan sekitar 12.000 meter kubik kayu olahan senilai Rp. 208 miliar yang akan diselundupkan ke Malaysia. Buntutnya, Kapolres, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang dan banyak oknum lainnya diamankan oleh Mabes Polri. Di Ketapang juga, masyarakat mengalami kekhawatiran akan kerusakan hutan karena banyak beroperasinya perkebunan kelapa sawit.

Selain mengisi Dialog Rakyat untuk kelestarian hutan dan lingkungan, Emha Ainun Nadjib juga sebelumnya tampil pada acara bincang-bincang kebudayaan dengan para aktivis pemuda, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama di Ketapang. Turut menjadi pembicara pada pertemuan tersebut tokoh muda Katolik Alexander Yan Sukanda, yang pada November 2007 lalu mendapatkan penghargaan Bintang Kebudayaan dari Pemerintah RI. “Keselamatan hutan terutama di daerah hulu harus diperhatikan. Sebab, jika hutan habis maka kehidupan budaya, sosial, ekonomi dan cadangan air masyarakat di hulu akan hilang,” demikian Yan Sukanda.

Berkaitan dengan penyelamatan lingkungan, Ema Ainun Nadjib menyebutkan, bahwa agama dan adat menyumbang besar bagi kebangkitan Indonesia. Padahal, nilai-nilai sejati agama dan adat di tengah masyarakat harus diberdayakan. “Dayaklah yang melahirkan Indonesia, Melayu, Tionghoa, Madura dan lain-lain yang melahirkan Indonesia. Kalian semua telah menghidupi Indonesia,” demikian kata Emha.

“Kalian jangan merasa inferior. Kalimantan suatu hari harus menjadi pusat. Anda jangan mau dijajah oportunis di parlemen, atau para pemimpin tetapi tidak pernah memperhatikan nasib Anda. Kalian harus memiliki jiwa induk Garuda yang bebas, bukannya cucu Garuda yang hanya diam, makan remah-remah dan tidak bisa terbang,” tantang Emha serius.

Dalam kesempatan itu, Emha juga mengingatkan agar masyarakat menjadi pewarta pesan persaudaraan dan penyelamatan lingkungan. Dalam pagelaran musik di Lapangan Sepakat malam 2/4/2008, Kiai Kanjeng berkolaborasi dengan musik dari etnik Dayak, Melayu, Tionghoa, dengan syair-syair persaudaraan, penyelamatan lingkungan dan memuja kebesaran Allah. Ribuan masyarakat yang hadir dibuat terpesona oleh Shalawat Nabi yang dilantunkan bersamaan dengan lagu Malam Kudus.

Juking, seorang lelaki tua dari pedalaman Ketapang yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengharapkan agar semua pihak segera mengambil tindakan nyata untuk keselamatan hutan dan lingkungan. “Semoga pesan kebudayaan Bang Emha ini segera ditindaklanjuti,” harap Juking. Sebuah harapan yang sama dari kita semua, agar bapak-bapak pejabat yang malam itu hadir segera membuat tindakan nyata untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

Alkap