|
«
Kembali
::
KR ONLINE | JUMAT,
9 MEI 2008
Kiai Kanjeng (Emha Ainun Nadjib) Pentas di Ketapang
Bulan-bulan belakangan ini “wajah” Kabupaten Ketapang banyak muncul di
pemberitaan media cetak dan televisi tingkat nasional. Maaf, bukannya
pemberitaan tentang keberhasilan, tetapi pemberitaan berkaitan kasus illegal
logging (pembalakan liar). Misalnya pemberitaan di sebuah majalah ibukota
tentang penggelapan Dana Reboisasi Hutan oleh Tony Wong (TW), kasus
pembalakan kayu di wilayah hulu Sandai dan lain sebagainya.
Baru-baru ini, berita marak lagi berkaitan operasi illegal logging yang
dilakukan Mabes Polri. Operasi di Ketapang berhasil mengamankan 19 buah
kapal memuat sekitar 12.000 meter kubik kayu olahan senilai Rp. 208 miliar
yang akan diselundupkan ke Malaysia. Berita yang membuat dada sesak
masyarakat kecil. Padahal, penyelundupan kayu ke luar Ketapang (Kalimantan)
ini telah berlangsung bertahun-tahun dan menimbulkan kerugian miliaran
rupiah. Jika selama ini tidak terungkap, siapa yang menikmati dana triliunan
dari bisnis laknat illegal logging itu?
Mabes Polri melakukan operasi penegakan hukum. Selain itu, dalam rangka
mempromosikan kepedulian terhadap kelestarian alam, hutan dan lingkungan,
pihak Departemen Kehutanan RI memakai pesan-pesan kebudayaan. Adalah
Kelompok Musik Kiai Kanjeng bersama Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking dan
pihak Departemen Kehutanan memberikan dukungan dan peneguhan tersebut.
“Hutan adalah titipan anak cucu kita. Ia adalah titipan Allah untuk anak
cucu yang harus kita jaga keberlangsungannya. Kita tidak boleh merusaknya,
demikian teriak lantang Emha Ainun Nadjib di depan ribuan masyarakat
Ketapang, para pejabat, tokoh masyarakat dan agama pada acara Dialog Rakyat
bertajuk Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.
Kegiatan Dialog Rakyat ini berlangsung pada 2 April 2008. Memang masyarakat
Ketapang belum terbiasa dengan acara dialog rakyat seperti ini. “Saya tidak
enak hati mengeluarkan unek-unek saya di depan pejabat, nanti saya akan
susah nanti,” papar seorang pengunjung. Tapi, mendengar Emha Ainun Nadjib
menunjuk langsung pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap kelestarian
lingkungan, hati semua pengunjung terobati.
Pak Bupati tidak boleh marah ke rakyatnya jika rakyatnya protes atau minta
ini itu, sebelum pemimpin memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat,
imbau Emha Ainun Nadjib.“Para pemimpin, para pastor, pendeta, ulama juga
harus bertanggung jawab terhadap kelestarian hutan. Sebab, saatnya nanti
para ulama sebagai khalifah akan ditanya oleh Allah, kenapa hutan tidak
terlindungi?” lanjut budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun tersebut,
disambut tepuk tangan ribuan masyarakat yang hadir.
Seruan Emha Ainun Nadjib tersebut terasa sangat mengena dan tepat waktu bagi
semua masyarakat di Kabupaten Ketapang. Seminggu sebelumnya, operasi illegal
logging yang dilakukan Mabes Polri di daerah ini berhasil mengamankan
sekitar 12.000 meter kubik kayu olahan senilai Rp. 208 miliar yang akan
diselundupkan ke Malaysia. Buntutnya, Kapolres, Kepala Dinas Kehutanan
Kabupaten Ketapang dan banyak oknum lainnya diamankan oleh Mabes Polri. Di
Ketapang juga, masyarakat mengalami kekhawatiran akan kerusakan hutan karena
banyak beroperasinya perkebunan kelapa sawit.
Selain mengisi Dialog Rakyat untuk kelestarian hutan dan lingkungan, Emha
Ainun Nadjib juga sebelumnya tampil pada acara bincang-bincang kebudayaan
dengan para aktivis pemuda, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama di
Ketapang. Turut menjadi pembicara pada pertemuan tersebut tokoh muda Katolik
Alexander Yan Sukanda, yang pada November 2007 lalu mendapatkan penghargaan
Bintang Kebudayaan dari Pemerintah RI. “Keselamatan hutan terutama di daerah
hulu harus diperhatikan. Sebab, jika hutan habis maka kehidupan budaya,
sosial, ekonomi dan cadangan air masyarakat di hulu akan hilang,” demikian
Yan Sukanda.
Berkaitan dengan penyelamatan lingkungan, Ema Ainun Nadjib menyebutkan,
bahwa agama dan adat menyumbang besar bagi kebangkitan Indonesia. Padahal,
nilai-nilai sejati agama dan adat di tengah masyarakat harus diberdayakan.
“Dayaklah yang melahirkan Indonesia, Melayu, Tionghoa, Madura dan lain-lain
yang melahirkan Indonesia. Kalian semua telah menghidupi Indonesia,”
demikian kata Emha.
“Kalian jangan merasa inferior. Kalimantan suatu hari harus menjadi pusat.
Anda jangan mau dijajah oportunis di parlemen, atau para pemimpin tetapi
tidak pernah memperhatikan nasib Anda. Kalian harus memiliki jiwa induk
Garuda yang bebas, bukannya cucu Garuda yang hanya diam, makan remah-remah
dan tidak bisa terbang,” tantang Emha serius.
Dalam kesempatan itu, Emha juga mengingatkan agar masyarakat menjadi pewarta
pesan persaudaraan dan penyelamatan lingkungan. Dalam pagelaran musik di
Lapangan Sepakat malam 2/4/2008, Kiai Kanjeng berkolaborasi dengan musik
dari etnik Dayak, Melayu, Tionghoa, dengan syair-syair persaudaraan,
penyelamatan lingkungan dan memuja kebesaran Allah. Ribuan masyarakat yang
hadir dibuat terpesona oleh Shalawat Nabi yang dilantunkan bersamaan dengan
lagu Malam Kudus.
Juking, seorang lelaki tua dari pedalaman Ketapang yang hadir dalam
pertemuan tersebut, mengharapkan agar semua pihak segera mengambil tindakan
nyata untuk keselamatan hutan dan lingkungan. “Semoga pesan kebudayaan Bang
Emha ini segera ditindaklanjuti,” harap Juking. Sebuah harapan yang sama
dari kita semua, agar bapak-bapak pejabat yang malam itu hadir segera
membuat tindakan nyata untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.
Alkap |
|