KR ONLINE TERBARU

30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit
14/11/2008
Masyarakat Adat Dayak Kabupaten Sintang Menggugat

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Jumlah tersedia: 40 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | JUMAT, 20 FEBRUARI 2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit


Pada awal Februari 2009, Keuskupan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan RAPIKA atau Rapat Para Imam Keuskupan Ketapang. Selain membahas masalah anggaran dasar keuskupan dan paroki, uskup dan 30-an imam di keuskupan itu mendalami proses penginjilan Evangelisasi Menyelamatkan Keseimbangan Ekologis yang Masih Tersisa.

Dalam kaitan itu, tanggal 7 Februari 2009, di Gedung Bina Utama Payak Kumang, Ketapang, digelar sebuah seminar bertema Dampak Kelapa Sawit terhadap Masa Depan Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Seminar ini diselenggarakan oleh KARINA KWI dan Yayasan Usaba Ketapang, sebuah yayasan milik Keuskupan Ketapang. Sebelumnya, di wilayah Keuskupan Agung Pontianak juga diadakan kegiatan serupa.

Seminar ini menarik, karena secara langsung - walau tidak terlalu keras, Gereja Keuskupan Ketapang membuka permasalahan dampak perkebunan kelapa sawit di wilayahnya dan juga di Kalimantan Barat. “Kelapa sawit jadi primadona di Kalbar, banyak investor masuk. Pemerintah daerah menargetkan 3-4 juta hektar untuk perkebunan ini. Luar biasa,” ungkap Uskup Ketapang Mgr. Blasius Pujaraharja, Pr., ketika memberi kata pembuka untuk seminar tersebut.

Bagi yang memahami pesan uskup tersebut, jelas bahwa kata luar biasa yang disampaikannya sebenarnya bukan kekaguman, tetapi menyampaikan kekhawatiran. Uskup melanjutkan, dari sisi dampak, pembukaan perkebunan sawit membawa dampak positif dan juga negatif sekaligus. Dari sisi positifnya, yang langsung dirasakan masyarakat, adanya jalan-jalan perkebunan membuka isolasi daerah pedalaman. Negatifnya? “Banyak terjadi kerusakan, sumber air rusak, flora dan fauna hilang, banyak terjadi ketidakadilan di tengah masyarakat,” papar Uskup Puja, panggilan akbrabnya.

Seminar lingkungan hidup ini diikuti 70-an peserta, utusan dari Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Sanggau dan Keuskupan Sintang. Pastor William Chang OFM Cap, menjadi moderator. Di bagian pembuka, Pastor Chang menyampaikan cerita. Seorang guru yang bertanya kepada para muridnya: “Murid-murid senang dengan kebun yang hanya satu bunga, atau kebun yang terdiri dari bermacam-macam bunga? Murid-murid menjawab: Suka kebun yang terdiri banyak bunga”.

Pesannya sederhana, kalau membangun perkebunan sebenarnya jangan hanya buka perkebunan sawit, tetapi juga lakukan pengembangan komoditas lain. Selamatkan dan tingkatkan kualitas karet rakyat, misalnya. Atau seperti Provinsi Gorontalo, mengembangkan komoditas jagung.

Tiga pembicara dihadirkan panitia dalam seminar dampak perkebunan kelapa sawit ini. Yang pertama, Wawan Hermawan dari Dinas Perkebunan Kalimantan Barat. Sebagai orang pemerintah, Wawan tampil yakin menyuarakan kepentingan pemerintah. Ia mengutip undang-undang, ia menyampaikan peranan perkebunan secara umum, ia juga mengedepankan hal-hal positif terkait pengembangan perkebunan kelapa sawit.

“Secara teknis, kelapa sawit cocok untuk daerah Kalimantan Barat, tidak mempersyaratkan kesuburan tanah,” ujarnya. Ia juga mengutip Hanson (1995, 2003), bahwa kelapa sawit ramah lingkungan. Juga tidak menurunkan kedalaman air tanah secara nyata. Ia juga menggarisbawahi, bahwa banyak masyarakat yang menolak sawit, tetapi tidak menolak AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Prinsipnya, kalau mau menolak sawit maka kritisilah, tolaklah AMDAL.

Pembicara kedua yang tampil, adalah Shaban Stiawan, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Barat. Seorang peserta, meminta agar Direktur Walhi tersebut tampil garang dalam menyampaikan presentasinya. Di semangati peserta, ia pun tampil lebih keras mengkritisi pemaparan pembicara sebelumnya. “Kalau aturan, memang baik dan lurus kedengarannya. Tetapi dalam pelaksanaannya, banyak yang menyimpang dan bertentangan,” jelasnya.

Direktur Walhi Kalbar ini, melalui makalahnya berjudul: Ekologi, Sawit Pasti Menghilangkan Hak Rakyat, kemudian menunjukkan data-data yang dihimpun lembaganya terkait kerusakan hutan akibat pembukaan perkebunan sawit. Termasuk menampilkan foto, di mana bukit di pangkas untuk ditanami sawit, dengan tingkat derajat kecuraman yang tinggi yang sebenarnya di larang menurut ketentuan. “Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar seperti sekarang ini, mengancam Kalimantan sebagai satu kesatuan ekologis. Juga merusak keseimbangan alam dan lingkungan, yang berpotensi menimbulkan bencana alam yang dahsyat.

Pembicara ketiga, Fargus Y. Dunda dari Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia, Kabupaten Ketapang. Ia tampil cukup kalem, dengan menyampaikan prinsip-prinsip pengelolaan perkebunan sesuai standar, termasuk prinsip tanggung jawab dan konservasi lingkungan. Ia juga menyebutkan, bahwa jika pengelolaan perkebunan tidak dilakukan sesuai prosedur dan standar, akan mempengaruhi permintaan terhadap hasil perkebunannya. Ditanya peserta, tentang operasional pembukaan lahan yang sering mengabaikan hak masyarakat, pembicara ini mengakui tidak semua perusahaan menjalankan prosedur. “Masih ada hal-hal yang dilanggar, dan karenanya perlu lembaga pengontrol,” urai Fargus Y Dunda.
Bagian tanya jawab berlangsung cukup panas. Pastor Mateus Juli Pr., menyebutkan, perusahaan sering kongkalikong, masuk diam-diam dan kucing-kucingan, memecah belah umat. Tapi, tidak terlalu peduli dengan pihak Gereja. FX Kempeni dari Sintang, Yohanes Mijah, dan Bartolomeus dari Sambas menceritakan derita banyak orang karena pembukaan perkebunan sawit. Ada perusahaan melakukan sosialisasi diam-diam. Bahkan ada sosialisasi, langsung kemudian penggusuran lahan. Ada banyak lahan kebun dan perkuburan keramat (kuburan tua) yang digusur.

Seorang imam, P Bangun Pr., menyerukan, sudahlah sawit, hentikan pembukaan dan pemberian izin baru, serta mari selamatkan ekologi yang masih tersisa. Pesan senada juga disampaikan Alex Teban dari Sintang. “Stop dulu sawit serta benahi kebun yang sudah ada saja,” ujarnya.

Setelah mendengar jawaban dan penjelasan pembicara, para peserta melakukan diskusi dan mengeluarkan tuntutan. Untuk lingkungan Gereja Katolik, diminta Gereja melakukan pemberdayaan partisipatif dengan membangun jejaring yang melibatkan anggota masyarakat sambil memanfaatkan lahan secara produktif dengan menanam aneka komoditi yang bernilai ekonomis. Perlu adanya edukasi dan pemahaman perundang-undangan tentang perkebunan sawit di lingkungan para imam. Serta melakukan sosialisasi pentingnya lingkungan hidup melalui media Gereja. Bersikap kritis terhadap situasi sekarang dan masa depan sambil menggalakkan gerakan cinta lingkungan.

Kepada pemerintah, diminta agar menghentikan pemberian izin baru untuk perkebunan kelapa sawit. Mengoptimalkan produktivitas perkebunan yang sudah ada. Membentuk lembaga untuk mengawasi (audit) pelaksanaan pengelolaan lingkungan di perusahaan perkebunan. Membangun pemerintahan yang bersih dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, serta Menerapkan sistem pengelolaan sumber daya alam Kalimantan secara adil, lestari, dan berbasis kemasyarakatan yang mendukung keberlangsungan hidup seluruh rakyat Kalimantan.

Pihak perusahaan juga diminta untuk melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan agama dalam proses dan keputusan mengenai AMDAL, membentuk dan mengoptimalkan divisi lingkungan hidup dalam setiap perusahaan sesuai dengan peraturan yang ada, menyelesaikan permasalahan-permasalahan perkebunan dengan pihak-pihak terkait dengan tuntas dan adil, dan pihak perusahaan konsisten terhadap aturan pemerintah dan melaksanakan kesepakatan dengan masyarakat lokal secara jujur.

Dalam bagian penutupnya, Uskup Ketapang Mgr. Blasius Pujaraharja Pr., kembali menekankan; “Tuhan menyerahkan kepada manusia untuk mengelola lingkungan hidup dengan tertib dan baik. Dan semuanya untuk kebaikan umat manusia, agar umat manusia mengalami damai sejahtera,” demikian Uskup Ketapang.

Sebagai catatan, ketika tulisan ini di buat, ribuan buruh perkebunan kelapa sawit dari kelompok Benua Indah Group di Sungai Melayu Ketapang, telah tiga bulan belum menerima bayaran dari pihak perusahaan. Tidak cukup hanya ke Ketapang, mereka menghadap Gubernur Cornelis untuk menyampaikan permasalahan yang mereka alami.

Semoga, semua pihak - pemerintah, pengusaha, pelaku ekonomi - yang merusak lingkungan, dibukakan hati dan pikiran yang jernih untuk menyelamatkan lingkungan hidup yang masih tersisa. Serta bagi perkebunan yang sudah ada, agar benar-benar memperhatikan nasib buruh dan pekerja perkebunannya.

F. Alkap Pasti, pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Ketapang